Saran dan Kritik


Semua tulisan diblog ini dimaksudkan sebagai pembelajaran kita semua, khususnya saya pribadi. Dorongan kesadaran saya yang memang hamba doif, fakir dan miskin dalam segala sesuatu ilmu dan amal sepanjang ajaran Al-qur’an dan Sunah Nabi Muhammad Saw (syariat islam).

Tulisan diblog ini tidak bermaksud menceramahi, mengurui hanya sekedar berbagi pengetahuan yang saya dapatkan selama hidup ini dari “orang tua”, guru, dan rekan-rekan sesama mukmin. Tulisan-tulisan saya niatkan untuk memperbaiki diri dari kesalahan-kesalahan yang telah lalu khususnya buat saya pribadi, sebagai pengingat, sebagai motivasi untuk terus mencari-beramal menggapai margfiroh dan ridho Ilahi,.

Jika nanti ditemukan barang sesuatu yang salah, sesat, keliru, khilaf dan menyesatkan sudilah kiranya rekan-rekan yang budiman mengingatkan saya dan memberikan koreksi disertai alasan, keterangan, penjelasan yang sah, kuat dan cukup.

 

Terima kasih.

 

Rosendi

9 Comments Add yours

  1. Abu Acho mengatakan:

    Hidup lah Bung Jodi …….. hehehehe

    1. rosendi mengatakan:

      Mana saran dan kritikna ieu teh bung😛

      1. Abu Acho mengatakan:

        Sudah cukup bagus web-nya, …. tinggal terus aja menulis, dan satu lagi tulisanna rada variasi Jod ….. Oke Bung Jodi …

  2. rosendi mengatakan:

    OK ! Hatur thank you..

  3. Sayyid mengatakan:

    blognya keren, mas. Tp waktu sy ngunjungin blog anda tadi, kayaknya di Home-nya terlalu panjang ke bawah, jd sy lumayan capek memutar scroll mouse sy🙂
    Saran sy, coba tampilkan 4-6 postingan saja di halaman depan, atau kasi Read More.. di postingannya, biar gk terlalu panjang…
    tp itu cuman pendapat sy ^_^
    Terimakasih:mrgreen:

  4. rosendi mengatakan:

    Makasih ya saran nya…😀

  5. Belajar mengatakan:

    Menulis itu mudah, mengamalkannya yang perlu dilatih terus menerus…

    semangat ananda rosendi😉

    1. rosendi mengatakan:

      siap ndan !!!

  6. Mandalajati Niskala mengatakan:

    Ass~Sampurasun.

    Mandalajati Niskala mengucapkan selamat untuk ROSENDI’S BLOG.

    Sip Deh. Tidak ada saran, tidak ada kritik, yang ada oleh~oleh serupa Syair Sahabat Alam. Semoga menjadi bahan tafakur yang bermanfaat. Amin.

    SAHABAT ALAM
    Mandalajati Niskala, th 2000

    Penaku adalah akar-akar dari hutan yang terbakar.
    Penaku adalah jiwa, yang tintanya darah-darah dari hati yang suci mengalir.
    Penaku adalah filsafat dan ilmu, yang tintanya alam semesta global.

    Alam tak bertapal batas membentang DITERKAM DADA.
    Tebaran bintang berenang menantang untuk disapa.
    Bulan mengiringi satelit, dan bumi ini sangat kecil.
    Disana cakap, dusta dan pengkhianatan direka.
    Akalku dipaksa meninkari kebenaran.
    Tentu aku tak mau.
    Bahkan dari dulu aku tak setuju.
    Aku ini manusia di zaman batu.
    Buta kaidah-kaidah mufakat.
    Buta warta.
    Buta buku reka-reka.
    Tapi, mungkin saja ku dapat bongkar rahasia dalam rentang yang terlewat
    Dalam perjalanan masa yang panjang kedepan.
    Dan kunamakan diriku Pujangga Gelombang Baru.

    Lucu kiranya !
    Kabarku semacam pepohonan.
    Tanah-tanah pijakan yang menghampar.
    Api yang membakar tergenggam bumi.
    Air yang mengalir.
    Lautan lepas
    Angin semilir.
    Taufan yang menghempas menghujat.
    Gunung yang menjulang menghujam.
    Halilintar yang mengincar nyawa-nyawa.
    Gelombang lautan yang terbang menerkam,
    Semuaya menelan nafas-nafas daratan.
    Memberikan pelajaran pada berita dusta.

    Tanda-tanda alam memberi isyarat.
    Gempa dan gerhana meloncat-loncat.
    Khatulistiwa yang panas smakin membara.
    Kutub yang bersalju kehilangan beku.
    Nafas yang mendesah dalam tubuh-tubuh mahluk terantuk.
    Ruh yang menyatu memberilan sinyal.
    Jiwa yang terkontak dari zat yang berakal rusak kehilangan fitrah.
    Yang serakah dan mencengkram, tertera.
    Yang susah dan kelaparan tengadah pasrah, terasa.
    Yang tertekan dan bersabar.
    Yang teraniyaya dan ikhlas.
    Yang air matanya dapat mengundang kekuatan jagat.
    Mengng…getarkan dadaku sampai ke ujung maut.

    Alam ini tak akan kehabisan cerita bagi pujangga.
    Aku tumpahkan berita ini dalam karya.
    Aku ini sepertinya pujangga bebal.
    Mulutnya lancang.
    Nyelonong menerobos lorong kosong.
    Kosong dari sahabat pena dan canda-ria.
    Membingungkan.
    Aku atau siapa ?

    Biarlah mulut orang apa bicara.
    Mata biarlah merdeka menatap.
    Walau ternyata, nanar tak hilang jua.
    Telinga mengiang dari reka berita dusta.
    Aku tak tahu semua itu.

    Aku tahu bukan dari cara wajahku meraba.
    Semua punya detak-detak jiwa.
    Dia akan meloncat dari tubuhnya.
    Berita itu yang kugenggam.
    Jika aku tak mampu.
    Kumohon Tuhan menolongku.

    Penaku adalah cahaya dalam gelap gulita,
    yang tintanya gelombang jagat dari Sidratul Muntaha.
    Penaku adalah malam yang tenang,
    yang tintanya embun jatuh menyejukan rumput-rumput yang muram dan kusut.
    Penaku adalah telaga harapan,
    yang tintanya air yang bening bagi orang-orang yang bersuci.
    Penaku adalah udara segar,
    yang tintanya angin sepoy-sepoy basah bagi musyafir yang kelelahan.
    Penaku adalah jihad, yang tintanya darah-darah semerbak bergerak tenang.
    Penaku adalah do’a setajam pedang, yang berkelabat bagi para penghianat.
    Penaku adalah cita-citaku, dan Tuhan di ujung sana menatap rindu.

    Bandung,
    Mandalajati Niskala
    50 Puisi Filsafat Gelombang Baru

    SANG PERUBAH
    Mandalajati Niskala, 3 Februari 1996

    Ledakan jiwa yang sejuk merubah ladang panas ditumbuhi api yang membara.
    Dan para petani yang selalu berpanen darah dan air mata di malam hari.
    Tuan tanah dan wanita-wanita pelayan tani menyuburi ladang dengan siraman arak dan tawa.
    Sang perubah menyelinap dikegelapan malam.
    Bersimpuh luluh dalam hamparan sajadah cinta.

    Dia menghamba.
    Mengasyiki butiran tasbih dalam linangan air mata mujijat.
    Merunduk pandangan mata ketitik dalam.
    Hingga mata tenggelam di dalam gumpalan jiwa.
    Telinga menguntit gerakan mata.
    Lalu tenggelam jua di dalam gumpalan jiwa.

    Malam itu.
    Hiruk pikuk penggerap lahan tak mengganggu sang perubah dalam khusu.
    Karena telinga tersembunyi di dalam hati yang asyik masyuk menjalin kasih.
    Tuhan mencengkam sekujur tubuh.
    Sang perubah diam tak berdaya.
    Hanya kening yang bersandar pada jiwa yang mampu menatap rindu dengan mesra.
    Kekuatan Tuhan tak henti-henti mengalir.
    Membaja, dada memuat kegaiban.

    Disaat tuan tanah dan wanita pelayan berarak-arak.
    Pulang dalam kelelahan malam.
    Di depan surau tua di dekat persimpangan.
    Beradu pandang terjurus lama dalam jarak satu depa.
    Tajam tatapan Sang Perubah.
    Dengan bibir datar nafas pelan gigi tak ditekan.
    Lah menghilangkan segala gerak, mencopotkan otot-otot.
    Membekam.

    Gerombolan ladang panas berlalu membeku.
    Hilang dalam tatapan pajar.
    Kokok ayam mengundang generasi yang tercemar.
    Menuju rumah obat surau tua.
    Berdiri bershaf, menunaikan shalat fajar dalam alunan lunak bertuah.
    Sang Perubah dalam shalat dan kata
    Menyirami tabur benih dengan mesra.
    Menggemburkan tanah gersang dengan ruhama dan ikhlas.
    Impian datang.
    Ladang tumbuh rindang.
    Menjadi peneduh jiwa dalam gundah dan segala resah.

    Bandung,
    Mandalajati Niskala
    50 Puisi Filsafat Gelombang Baru

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s