Fitrah Manusia Bagian 1

Semua manusia dilahirkan dalam keadaan fitrah. Dengan fitrah ini pulah kita akan mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan dalam kubur nanti. Seperti yang kita ketahui bahwa mulut kita akan dikunci, hanya amal kita selama hidup di dunia yang akan menjawabnya. Semoga saya dan kita semua dapat menjawab semua pertanyaan-pertanyaan di alam kubur nanti yang akan ditanyakan oleh malaikat Mungkar dan malaikat Nakir untuk mempertanggung jawabkan hidup kita selama di dunia. Mari renungkan, mari belajar dan mengajarkan serta beramal sholeh, Insyaallah…

fitrah bag 1.jpgYang menarik disini adalah pertanyaan-pertanyaan dialam kubur diberitakan kepada kita manusia padahal lazim/ biasanya pada sebuah evaluasi/ ujian di sekolah misalnya soal-soal ujian biasanya sangat dirahasiakan. Apakah soal-soal pertanyaan di alam kubur itu bocor ataukah bagaimana??? Pastilah ada maksud dan tujuan dari kejadian semua itu, mudah-mudahan kita bisa mengambil pelajaran dan hikmah dari kejadian itu semua, amin.

Fitrah manusia yang pertama adalah “menghamba/ mengabdikan diri”

Manusia memiliki fitrah untuk menghamba, itulah ketetapan yang Allah telah gariskan kepada manusia. Cobalah perhatikan manusia, maka kita akan temukan fitrah menghamba memang melekat pada setiap diri pada manusia yang tidak bisa dipungkiri. Menghamba kepada apapun itu, sebagai gambaran kita lihat beberapa contoh sebagai berikut :

  • Seorang  yang menghambakan diri kepada harta/ tujuannya adalah mengumpulkan sebanyak-banyaknya uang. Manusia akan rela bekerja memeras keringat membanting tulang demi mendapatkan uang. Bekerja siang dan malam belum ditambah lagi lembur dari hari senin-jum’at/ sabtu. Manusia rela melakukan itu semua demi uang/ harta. Sadar atau tidak manusia seperti itu adalah manusia yang menghambakan diri kepada uang/ harta. Pertanyaannya mampukah manusia seperti ini menjawab pertanyaan di alam kubur nanti dengan amalnya? Man Rabbuka “siapa Rabmu” ???
  • Seorang pria yang menghambakan diri kepada wanita atau yang tujuannya untuk mencari wanita. Pria seperti ini akan menebar pesona untuk memikat wanita. Ia akan melakukan apa saja demi mendapatkan wanita itu. Rela berkorban waktu, harta dan perasaan, rela mengatar wanita kemanapun juga dan lain-lain. Sadar atau tidak manusia seperti ini adalah manusia/ pria yang menghambakan diri kepada manusia/ wanita. Pertanyaannya mampukah manusia seperti ini menjawab pertanyaan dialam kubur nanti dengan amalnya. Man Rabbuka “siapa Rabbmu” ???

Memang seperti itulah fitrah manusia yang kita lihat, dengar dan rasakan adalah menghamba/ mengabdikan diri, sebuah ketetapan Allah kepada manusia. Apakah fitrah seperti itu fitrah sejati manusia? jawabnya tentu bukan!

Fitrah sejati manusia itu adalah menghamba, mengabdikan diri, beribadah hanya kepada Allah Swt. Sesuai dengan firman Allah dalam QS : Az-Zariyat; 51:56 yang artinya :

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melaikan agar mereka beribadah kepada-Ku.

Dari  keterangan QS : Az-Zariyat; 51:56 dijelaskan bahwa fitrah sejati manusia hanya menghamba, mengabdikan diri dan beribadah hanya kepada Allah.

Ketika manusia tidak menghamba, mengabdikan diri dan beribadah hanya kepada Allah maka manusia itu keluar dari fitrah sejatinya. Lebih dalam lagi Allah menegaskan  bahwa Allah menafikan tidak menciptakan “manusia” yang tidak beribadah kepada Allah. Kalau Rabbnya manusia telah berlepas diri kepada “manusia” yang tidak beribadah maka kepada siapa lagi manusia seperti itu akan bergantung, memohon pertolongan dan perlindungan??? sungguh sangat menakutkan bukan ketika kita tidak memiliki tempat bergantung, dan memohon pertolongan baik di dunia-akherat nanti ??? cam-kan itu baik-baik !!!

Sebagai contoh gelas itu bisa digunakan untuk banyak hal, jika :

  • Gelas itu tujuan diciptakannya oleh pembuatnya adalah untuk minum. Ketika gelas digunakan sesuai tujuan penciptaannya yaitu untuk minum maka gelas telah sesuai fitrah nya karena sesuai dengan tujuan penciptaannya.
  • Akan tetapi jika gelas digunakan sebagai ganjal pintu mungkin, atau digunakan sebagai tempat pembuangan ceracah rokok atau sebagai senjata dsb maka gelas sudah tidak sesuai lagi fitrah sejatinya.
  • Bagaimana kalau gelas itu tidak digunakan sebagai mana fungsinya? maka gelas itu bukan disebut gelas melainkan akan disebut sampah karena tidak sesuai fungsinya walaupun wujudnya tetap gelas. (mudah-mudahan bisa dimengerti,  insyallah)

Jadi manusia yang tidak beribadah kepada Allah hanyalah seonggok sampah atau rongsokan yang tidak bernilai, Nauzubilah…

Ada 3 pembagian perjalan hidup manusia yang disampaikan oleh para “arifinbillah” yaitu :

  1. Manusia yang hidupnya mengalir “hisi” seperti orang kebanyakan. Hidupnya belajar kemudian bekerja-kemudian menikah-kemudian memiliki anak-kemudian meninggal. Seperti orang kebanyakan saja.
  2. Manusia yang memaknawi hidupnya dengan beribadah kepada Allah. Semua kegiatan yang dilakukannya disambungkannya dengan nilai-nilai ilahiyah.
  3. Manusia yang memaknawi dan mema’ani hidupnya dengan beribadah kepada Allah dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

Sebagai orang beriman dan Islam kita wajib memaknawi dan ma’ani segala kegiatan kita dengan nilai-nilai ilahiyah, dan meluruskan niat dan menyempurnakan amal sepanjang syariat Islam. sebagai contoh :

  • Seorang pelajar hendaknya giat belajar menuntut ilmu di sekolah. Kegiatan belajar itu hendaknya dimaknai sebagai perintah Allah yaitu perintah untuk giat menuntut ilmu. Sehingga akan bernilai ibadah. Akan berbeda nilainya jika kita belajar hanya sebatas kegiatan saja tapa makna yang terkandung didalamnya.
  • Ketika kita disuruh oleh orang tua, hendaknya melaksanakannya dengan memaknai bahwa Allah memerintahkan kita untuk berbuat baik kepada Orang tua. Sehingga kegiatan itu bernilai ibadah. Akan berbeda nilainya jika kita tidak memaknainya hanya sebatas menyenangkan orang hati orang tua saja.
  • Bagaimana kalau kita sebagai manusia tidak memaknawi dan mema’ani seluruh aktivitas hidup kita? Alangkah ruginya bukan? (mudah-mudahn bisa dimengerti dan diamalkan, insyaallah).

Jadi bukan hanya didalam sholat saja Allah itu Rabbnya manusia, akan tetapi diseluruh aspek kehidupan Allah wajib dijadikan Rabbnya manusia yang menciptakan manusia, juga mengatur segala aspek kehidupan manusia serta dengannya pulalahh Allah memelihara setiap hamba-hamba-Nya. Seluruh aktivitas diseluruh aspek kehidupan wajib dimaknawi dan ma’ani sebagai ibadah yang ditujukan hanya untuk Allah, tidak ada selain itu!

Hanya kepada Allah kita memohon sebanyak-banyaknya taufik hidayah dan magfirah serta ridha-Nya agar dicurahkan kepada kita semua hamba-hamba-Nya, insyaallh. Amin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s