Fitrah Manusia

fitrahSebagaimana yang kita ketahui bahwa manusia itu dilahirkan dalam keadaan fitrah.

Beberapa konsep fitrah, yaitu

  • Definisi fitrah dalam pengertian yang sederhana sering dimaknai suci dan potensi. 
  • Secara etimologis, asal kata fitrah / fitroh / pitrah berasal dari bahasa Arab, yaitu fitrah (فطرة) jamaknya fithar (فطر), yang suka diartikan perangai, tabiat, kejadian, asli, agama, ciptaan.
  • Ibnu Katsir mengartikan fitrah dengan mengakui ke-Esa-an Allah atau tauhid. Hal ini sebagaimana diungkapkan oleh Ibnu Katsir bahwa manusia sejak lahir telah membawa tauhid, atau paling tidak ia berkecenderungan untuk meng-Esa-kan Tuhannya, dan berusaha terus mencari untuk mencapai ketauhidan tersebut.
  • al-Maraghi mengatakan bahwa fitrah mengandung arti kecenderungan untuk menerima kebenaran. Sebab secara fitri, manusia cenderung dan berusaha mencari serta menerima kebenaran walaupun hanya bersemayam dalam hati kecilnya (sanubari)
  • Fitrah adalah kemurnian (keikhlasan) dalam menjalankan suatu aktivitas
  • Menurut Muhammad Quraish Shihab, istilah fitrah diambil dari akar kata al-fithr yang berarti belahan. Dari makna ini lahir makna-makna lain, antara lain pencipta atau kejadian.
  • Dalam gramatika bahasa Arab, sumber kata fitrah wazannya fi’lah, yang artinya al-ibtida’, yaitu menciptakan sesuatu tanpa contoh. Menurut hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abbas, fitrah adalah awal mula penciptaan manusia.
  • Fitrah itu bukan diperoleh melalui usaha (muktasabah). Fitrah itu pemberian/ karunia Allah kepada manusia.
  • Dalam kamus Al-Munawwir, kata fitrah diartikan dengan naluri (pembawaan).
  • Mahmud Yunus mengatakan, kata fitrah diartikan sebagai agama, ciptaan, perangai, kejadian asli.
  • Dalam Kamus Bahasa Indonesia (KBBI), kata fitrah diartikan dengan sifat asli, bakat, pembawaan perasaan keagamaan.
  • Lusi Makluf mengatakan, kata fitrah diartikan dengan agama, sunnah, kejadian, tabiat.
  • Kamus Indonesia-Inggris susunan John Echols dan Hasan Sadili, mengartikan fitrah dengan natural, tendency, disposition, character.
  • Kamus Arab-Melayu mengartikan fitrah dengan agama, sunnah, mengadakan, perangai, semula jadi, kejadian (khilqatun).

Dari beberapa konsep fitrah diatas dapat disimpulkan bahwa :

Fitrah adalah kesucian dan potensi dasar yang dianugerahkan Allah yang melekat pada setiap manusia yang memiliki kecendrungan untuk menerima tauhid, kecenderungan menerima Islam, dan kecenderungan untuk berusaha mencari serta menerima kebenaran sesuai tujuan penciptaan-Nya.

al-Ghazali mengartikan bahwa fitrah merupakan dasar bagi manusia yang diperolehnya sejak lahir dengan memiliki keistimewaan-keistimewaan sebagai berikut:

  1. Beriman kepada Allah SWT;
  2. Kemampuan dan kesediaan untuk menerima kebaikan dan keturunan atau dasar kemampuan untuk menerima pendidikan dan pengajaran;
  3. Dorongan ingin tahu untuk mencari hakikat kebenaran yang berujud daya untuk berpikir;
  4. Dorongan biologis yang berupa syahwat, nafsu, dan tabiat;
  5. Kekuatan-kekuatan lain dan sifat-sifat manusia yang dapat dikembangkan dan dapat disempurnakan

Fitrah manusia ini dibawa sejak lahir dan terus mengalami perkembangan seiring dengan semakin berkembangnya akal manusia dan pada akhirnya manusia akan mengakui bahwa Allah itu Rabb manusia sehingga mereka akan kembali kepada Tuhannya. Oleh karena itu, di sinilah betapa pentingnya mempertahankan fitrah dan sekaligus mengembangkannya bagi kehidupan manusia diri-sosial. Dalam hal ini, baik buruknya fitrah manusia akan tergantung pada kemampuan manusia itu sendiri dalam berinteraksi dengan ajaran Islam secara menyeluruh

Dalam perjalanan hidupnya manusia berinteraksi dengan lingkungan alam sekitarnya, terpengaruh oleh adat istiadat dan pergaulannya. Berkembangnya fitrah dalam diri manusia sangat tergantung pada masukan yang bersumber dari wahyu (Qur’an dan Sunnah) atau masukan dari nilai-nilai dari adat istiadat falsafah nenek moyang yang akan mempengaruhi fitrah manusia itu sendiri. Sunnatullah tersebut berkembang secara menyeluruh dan menggerakkan seluruh aspek yang secara mekanistis satu sama lain saling mempengaruhi.

Selanjutnya Abu Sa‘id al-Khudriy menukil sebuah Hadits Rasulullah SAW yang artinya:
Ingatlah bahwa anak cucu Adam tercipta atas enam tingkatan, yaitu:

  1. Dilahirkan dalam keadaan mukmin, hidup sebagai seorang mukmin, dan matinya sebagai orang mukmin pula
  2. Dilahirkan dalam keadaan kafir, hidup sebagai orang kafir and matinya pun menjadi kafir
  3. Dilahirkan sebagai orang mukmin dan hidup menjadi seorang mukmin, tetapi matinya sebagai orang kafir
  4. Dilahirkan sebagai orang kafir, dan hidupnya menjadi orang kafir, tetapi matinya sebagai orang mukmin
  5. Baik ketetapan hidupnya;
  6. Baik mata pencahariannya. (HR. Abu Sa’id al-Khudriy)

Allah SWT berfirman dalam surat al-Rûm ayat 30:

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah), (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan dalam ciptaan Allah, (itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.

Kita yang mengaku Iman kepada Allah dan Islam kita terima sebagai agama sebagai dien satu-satunya yang dirhidoi disisi Allah. Bukankah kita akan marah kalau dikatakan tidak Islam. Tetapi Iman dan Islam itu sendiri belum meresap ke dalam jiwa-jiwa masing dari kita.

Binalah diri ini terlebih dahulu dengan memperdalam aqidah dan ibadah, perteguh hubungan dengan Tuhan. dengan pertalian yang teguh dengan Tuhan, hadapi tugasmu (Tujuan Penciptaan Manusia Adalah?) dalam hidup”.

Semoga Allah berkenan melimpahkn sebesar-besarnya hidayah dan taufik-nya serta magfirohnya kepada kita semua, Amin...

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s