Arti Penting Pembinaan Dalam Islam dikehidupan

spirit2.jpg

Seperti yang kita ketahui bahwa ” semakin tinggi derajat seseorang maka akan semakin besar tantangan yang akan dihadapinya” Oleh karena itu setiap diri dari kita  akan membutuhkan pembinaan untuk terus bisa mendapatkan perbaikan. Sungguh beruntung orang yang selalu butuh bimbingan dan celakalah orang yang merasa tidak membutuhkannya lagi. Khususnya bagi setiap diri dari kita yang masih jauh dari kesempurnaan.

Diantara kita tiada yang sempurna dalam menjalani hidup bukan?

Bagaimana diri merasa telah sempurna, padahal nabi yang mulia senantiasa bermohon ampun kepada Khaliqnya sepanjang hayatnya. Demikian pula para sahabatnya, Abu Bakar as Sidiq selalu menangis tersungkur dan sujud ketika ingat bahwa sakaratul maut dengan rasa sakitnya dapat menggoyahkan iman dan Islam seseorang. Demikian pula dengan Ali bin Abi Thalib sering pingsan dalam zikir dan do’anya.

Pelatihan dan pembinaan dalam islam adalah kegiatan sepanjang zaman. Pelatihan dan pembinaan dalam islam bisa berarti bimbingan dalam upaya penghapusan dosa, kesalahan. kekhilafan dan kekeliruan dimasa lampau serta menggantikan kesalahan-kesalahan itu dengan kebaikan dan bakti. Pelatihan dan pembinaan dalam islam adalah pengerahan seluruh potensi diri (yaitu akal, hati dan nafsu) dan hartanya untuk pengabdian kepada-Nya dan pembekalan menuju pribadi yang bisa mengabdi kepada Allah dan Rasul-Nya. Pelatihan dan pembinaan dalam islam untuk memahami dan mengerti makna hakiki syahadah, yang dengannya lahir semangat untuk beramal soleh dan berbakti sebagai hamba-Nya.

Terkadang Pelatihan dan pembinaan dalam islam berbentuk bimbingan, petuah, pengajaran dan pemberian petunjuk-petunjuk risalah. Dipihak lain justru kita dibiarkan agar perlahan-lahan tumbuh, dewasa dan menemukan jati diri. Pembinaan dapat merupakan doktrinasi, tetapi dilain waktu kita disuruh untuk menatap, menterjemahkan dan memecahkan sendiri rahasia kehidupan yang ditemukan.

Bershalawatlah kepada Rasul mulia Nabi Muhammad Saw dan renungkanlah, bagaimana beliau membina ummat dari bahan baku para jahil menjadi ummat yang terbaik yang pernah ada di bumi milik dan kepunyaan Allah ini.

Renungkanlah kembali kehidupan di Madinah al Munawwarah.

Di Madinah al Munawwarah yang ada hanya mesjid Nabi tempat rukuk dan sujud bersama, tempat menjelaskan wahyu-wahyu Ilahi, tempat mengadu kepada Rasul dan tempat bertobat. Yang ada hanyalah pasar tempat taushiah sambil mencari nafkah. Disela-sela bekerja ada obrolan, tanya jawab dan diskusi tentang diri dan masyarakat islam, tentang evaluasi diri dan keluarga, tempat memikirkan jalan keluar dari berbagai kesulitan umat. Yang ada hanyalah bukit dan lembah gersang tempat Rasul dan para sahabat berjalan dan mentafakuri alam, tempat mengukur kemampuan dan ketabahan diri.

Sungguh pembinaan di zaman nabi tidak mengenal tempat dan waktu. Dimanapun dan kapanpun wahyu Allah-lah yang diperdengarkan, Al-Quran-lah yang dibicarakan, petunjuk Rasullah yang menjadi ukuran. Tiada nafas tanpa tasbih, tiada nikmat tanpa syukur, tiada permulaan amal tanpa basmallah, tiada pertemuan tanpa salam, tiada pembicaraan tanpa senyum dan keramahan, tiada kesalahan tanpa istighfar, tiada dosa tanpa taubat, tiada perselisihan tanpa ishlah.

Pembinaan di zaman Rasullah tidak mengenal umur, jabatan dan kedudukan. kepintaran dan kekayaan, wajah dan keturunan, yang tua mengasihi yang muda, yang lebih muda menghormati dan menghargai yang lebih tua. Yang kaya siap dengan tangan dermawannya, sementara yang miskin memelihara diri dari meminta-minta. Yang berilmu dengan kearifan dan rendah hati menabur dan menebar mutiara ilmu dan hikmah, dipihak lain yang belum berilmu giat berta’lim dan belajar serta menghormati guru. Pimpinan dengan adil membimbing, memerintah dan mencegah ummat. Sebaliknya ummat dengan kepatuhan dan loyal serta khidmat mendengar taushiyahnya, memperhatikan ajarannya, mematuhi aturannya, mentaati perintah dan menjauhi larangan-nya.

Jangan berhenti belajar terus menggali ilmu, do’a dan harap agar setiap diri dari kita akan mendapat binaan, tempaan, ampunan, keridlaan, berkah dan rahmah yang sebesar-besarnya dan mudah-mudahan kita diberi kekuatan untuk mendapatkannya, Insya Allah, Amin.

(sumber : Buku karangan Dr. H. Ahmad Salim)

4 Comments Add yours

  1. mtnugraha mengatakan:

    Teruskan menulisnya Bung Jodi ……….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s